Bukan Kompas Mati

Hi..

Kamu punya sahabat? seperti apa?  apakah satu atau banyak? apakah dia atau mereka orang yang selalu membuatmu bahagia? apakah mereka orang yang selalu membuatmu tertawa? apakah mereka orang yang selalu ada disaat suka dan dukanya dirimu? apakah mereka orang yang pertama kali berada di garda depan untuk menghiburmu?

Aku yakin hampir semua jawaban di atas kamu jawab iya.

Tapi bolehkah aku tanya satu hal lagi, apakah dia orang yang melarangmu berbuat salah dan mengajakmu menuju ketaatan?

Jika iya, berbahagialah kamu karena dia benar-benar sahabatmu. Jika malah sebaliknya dia mengajakmu berbuat salah dan menjauhimu dari ketaatan, dia adalah musuhmu.

Tapi jangan bersedih jika pernyataan yang kedua adalah yang kau alami. Mungkin kamu hanya perlu sedikit upaya agar kamulah yang menjadi sahabatnya. Karena… apalah artinya sahabat di dunia? susah senang hanya sampai kita berhenti bernafas.

Bukankah sangat indah jika persahabatan yang selama ini memakan waktu, dapat menyelamatkan kita di akhirat?

Bahkan dapat saling bertemu di tempat yang didamba umat manusia yaitu Jannah?

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

Lihatlah kawan, bukankah Alloh Subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya telah memberitahu kita bahwa kelak, aku dan sahabatku, kamu dan sahabatmu akan saling bermusuhan jika tidak dalam ketaqwaan kepada Alloh. Lantas apa yang kita bawa dalam persahabatan ini? Tiap kali bertemu bercanda-tawa tak ingat banyaknya dosa, berghibah membicarakan aib setiap orang tak ingat bahwa diri pun tak sempurna. Apakah kondisi seperti itu membanggakan bagi kita? Sungguhlah kita sudah tersesat dalam dunia ini. Janganlah persahabatan bagai kompas mati yang kita ikuti selama perjalanan hidup. Membawa perjalanan ke sana ke mari menjauhi tujuan. Berjalan sesuka hati tak ingat batas waktu yang sempit dan bekal yang sedikit.

Izinkanlah aku menjadi sahabatmu kawan, mungkin aku akan kau benci, mungkin aku akan kau jauhi, tapi aku yakin itu hanya permulaan. Aku akan selalu mendoakanmu agar kau kembali. Kembali kepada fitrahmu yang condong pada kebaikan. Dan di saat itu tiba, aku sudah siap dalam posisi untuk menyambutmu. Aku akan menggenggammu sampai kita sama-sama sampai pada ketaqwaan kepada Alloh. Hingga di hari akhir nanti, kita akan saling membela untuk dapat bertemu di dalam syurga.

Aamiin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s